Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) meluncurkan sebuah Radar Pengawas Pantai (Coastal Surveillance Radar). Radar asli buatan Indonesia itu diberi nama Indonesia Sea Radar (ISRa).Radar ini akan lebih banyak membantu dalam bidang transportasi. Tetapi, tidak menutup kemungkinan untuk membantu bidang lain, seperti pertahanan dan keamanan.sumber ( Inilah Teknologi Canggih Asli Buatan Indonesia)selain itu terdapat juga 10 Teknologi paling canggih buatan asli Indonesia
1. Panser Anoa
Namanya terilhami dari mamalia khas Sulawesi, Anoa tampilannya tidak kalah dengan buatan Eropa. Kelahirannya disiapkan untuk mewujudkan kemandirian di bidang alutsista oleh Departemen Pertahanan dan PT Pindad. Panser beroda 6 ini mampu melaju hingga kecepatan 90 Km/jam. Mampu melompati parit selebar satu meter dan menanjak dengan kemiringan sampai dengan 45 derajat. Panser ini dilapisi baja anti peluru yang apabila diberondong dengan AK47 atau M-16 dijamin tidak akan tembus.
2. Pesawat Gatotkaca N-250
Pesawat ini adalah pesawat regional komuter turboprop rancangan asli IPTN (Sekarang PT. Dirgantara Indonesia) Diluncurkan tahun 1995. Kode N artinya Nusantara, menunjukan bahwa desain, produksi dan perhitungannya dikerjakan di Indonesia atau bahkan Nurtanio, yang merupakan pendiri dan perintis industry penerbangan di Indonesia. Pesawat ini diberi nama Gatotkaca dan primadona IPTN merebut pasar kelas 50-70 penumpang.
3. KRI-Krait-827
Kapal perang ini merupakan hasil saling tukar ilmu antara TNI AL lewat fasharkan (Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan) Mentigi dan PT Batan Expressindo Shipyard (BES), Tanjung Guncung. Dikerjakan selama 14 Bulan dan 100 % ditangani oleh putra-putri Indonesia. Berbahan baku aluminium, bertonase 190 DWT dengan jarak jelajah sekitar 2.500 Mil. Dilengkapi dengan radar dengan jangkauan 96 Nautical Mil (setara 160 Km) dengan system navigasi GMDSS area 3 dengan kecepatan terpasang 25 Knots
4. Smart Eagle II (SE II)
.
Merupakan Prototype pertama UAV (Unman Aerical Vehicle) yang dibuat PT. Aviator Teknologi Indonesia guna kepentingan intelegen Indonesia. SE II menggunakan mesin 2 tak berdiameter 150cc, mampu terbang hingga 6 Jam. Dilengkapi dengan colour TV Camera. Mampu beroperasi dimalam hari dengan menggunakan Therman Imaging (TIS) kamera untuk opsi penginderaannya.
5. Mobil Arina-SMK
Mobil ini dirancang menggunakan mesin sepeda motor dengan kapasitas mesin 150cc, 200cc dan 250cc. Konsumsi bensin hanya 1 liter untuk 40 km. Panjang 2,7 meter, lebar 1,3 meter dan tinggi 1,7 meter sehingga bisa masuk jalan dan gang yang sempit. Dinamakan Arina-SMK karena pembuatannya bekerja sama dengan Armada Indonesia (Arina) dengan siswa-siswa SMK.
6 senjata baru buatan Indonesia
Patutlah Kita Bangga Terhadap Indo Yang Sedang Maju Dibidang militer
ss-1
ss-4
ss-5
Assault rifle
ss-10
Sub Machine Gun
ss-13
7. Chip Asli Buatan Indonesia
Chipset Wimax Xirka, sebuah chip yang dibuat oleh orang Indonesia asli, Bukan usaha mudah memang membuat chip dengan kompleksitas yang cukup tinggi. Xirka yang dikawal beberapa engineer Indonesia ini mulai dikembangkan pada 2006. Chipset ini terdiri dari dua spesifikasi, yakni Chipset Xirka untuk Fixed Wimax dan Chipset Xirka untuk Mobile Wimax. Untuk fixed wimax telah diluncurkan pada Agustus tahun ini. Sedangkan mobile wimax rencananya diluncurkan pada quartal keempat 2009.Produk asli buatan Indonesia ini diluncurkan langsung oleh Menteri Riset dan Teknologi Republik Indonesia, Kusmayanto Kadiman. Beliau menjelaskan, seluruh komponen di dalam Xirka merupakan buatan Indonesia. Operator yang memberikan layanan Wimax wajib menggunakan Xirka.
8. PC TABLET WAKAMINI
Wakamini adalah komputer tablet seratus persen buatan Indonesia dengan harga yang bisa dijangkau siapapun, Rp3.599.000. Dari sisi layarnya, desain komputer tablet lokal ini tergolong unik yang dapat diputar 180 derajat, berukuran 10 inchi dan memiliki empat varian warna; coklat, merah, hitam dan biru. Sistem operasinya menggunakkan Windows 7 Home Premium dan Ultimate, dengan layar sentuh. Wakamini dibekali dengan prosesesor Intel Atom N450 berkecepatan 1,66 Ghz,RAM (Random Access Memory) sebesar 1 GB DDR2, Ruang penyimpanan 250 GB, sedangkan bobotnya 1,35 KG dengan Wifi “4 in 1″ card reader dan 1,3 MP Webcam dengan batrai berdaya tahan tiga jam.Sementara Wakatobi berukuran lebih mungil dan didesain untuk anak-anak, hanya 8,9 inchi. Desain layarnya juga unik, demikian pula harganya yang cukup menarik Rp2,999.000 per unit atau termurah di kelasnya. Tapi berbeda dari saudaranya, Wakatobi tidak mendukung fitur multi touch. Prosesor Wakatobi adalah Intel Atom N270 berkecepatan 1,6 Ghz, dengan RAM 1 GB DDR2. Bobotnya hanbya 1,25 kg
9. ROBOT TEMPUR
Lembaga Pengkajian Teknologi (Lemjitek) TNI AD, Karangploso, Kabupaten Malang, mampu menciptakan robot tempur.
prototype robot tempur ini sudah beberapa kali diujicobakan,dan mampu menempuh jarak hingga 1 km dari pusat kendali. “Ukurannya 1,5 m kali 0,5 m dengan berat sekitar 100 kg. Robot ini memiliki mesin penggerak dua roda,dan mampu mengangkut beban hingga sekitar 150 kg, kecepatan maksimalnya bisa mencapai 60 km/jam,” terangnya. Robot yang diciptakan pada tahun 2009 dan belum memiliki nama ini, digerakkan dengan tenaga listrik dari dua baterei yang tersimpan di dalam bodi robot.
Dua baterei ini memiliki kekuatan 36 volt yang berfungsi untuk penggerak, dan 12 volt untuk sistem kontrolnya. Gunawan mengaku, kondisi robot ini belum sepenuhnya sempurna karena baru selesai proses perakitannya, kemungkinan masih sekitar 70-80% dari kondisi ideal yang diinginkan.
10. PELURU KENDALI
Walaupun, roket RX-420 masih jadi pertimbangan Departemen Pertahanan, apakah mampu menjadi salah satu senjata penangkal di darat yang dapat diandalkan sehingga, Indonesia tidak memerlukan armada kapal atau senjata perang lainnya, selain faktor biaya yang dominan besar.
ide produksi rudal dalam negeri mulai tercetus tahun 2005. Dana sebesar Rp 2,5 miliar digelontorkan untuk proyek pembuatan rudal pada tahun itu, dan bila itu terwujud Dephan akan menggandeng PT Pindad Indonesia, pabrik senjata dalam negeri yang melakukan penelitian hulu ledak kaliber 122 milimeter. Saat ini, LAPAN telah berhasil meluncurkan roket dengan kekuatan jarak tempuh 100 kilometer, dan memiliki kecepakatan luncur awal 4 kali kecepatan suara.
Sunday, February 12, 2012
MINDA BISTARI #22 - TEKNOLOGI NADI EKONOMI
Pembelian kereta api canggih oleh Kereta api Tanah Melayu Berhad (KTMB) melibatkan perbelanjaan RM 240 juta baru-baru ini menarik perhatian saya. Keretapi eletrik menggunakan teknologi dari Korea Selatan ini akan digunakan untuk laluan Kuala Lumpur ke Ipoh.
Dengan kelajuan 140 km sejam, masa perjalanan antara KL dan Ipoh dijangka dapat dipendekkan kepada hanya 1 jam 55 minit.
Syabas diucapkan kepada KTMB yang berusaha meningkatkan mutu perkhidmatannya demi memenuhi keperluan generasi masa kini.
Sebenarnya, di negara maju kereta api merupakan sistem pengangkutan utama dan menjadi pilihan masyarakatnya. Ia menjadi alternatif kepada sistem pengangkutan lain kerana kepantasan, kecekapan, ketepatan masa dan tambang murah.
Di Jepun, kereta api ”peluru” Shinkansen (bullet train) sangat dibanggakan kerana kelajuan dan keberkesanannya. Kelajuannya mampu mencapai lebih 300 km sejam, menjadikan Shinkansen ikon kepada kemajuan Jepun dan kecanggihan teknologinya serta membolehkan rakyatnya bergerak pantas dalam persaingan.
Begitu juga Amerika Syarikat dan Eropah yang mempunyai teknologi jauh di hadapan. Mereka sentiasa berlumba-lumba meningkatkan keupayaan teknologi untuk memenuhi desakan perkembangan ekonomi dan sosial yang pesat. Perancis pula sangat berbangga dengan TGV mereka yang mampu mencapai kelajuan melebihi 350 km sejam. TGV merentasi Eropah dan menjadi nadi utama pengangkutan di Eropah. Sepanjang 2008 saja, TGV mengangkut lebih 98 juta penumpang.
Semua pencapaian ini menjadikan kereta api sebagai pilihan masyarakat negara maju dan menjadi akses yang murah, cepat, selamat dan menjimatkan masa. Ini adalah antara keperluan masyarakat di negara maju kerana mereka tahu bahawa mereka perlu bergerak pantas mengejar masa agar tidak ketinggalan.
Kita juga memerlukan teknologi seumpama ini bagi menggantikan sistem sedia ada. Salah satu faktor kepada kepesatan pertumbuhan ekonomi negara-negara maju hari ini adalah jaringan sistem pengangkutan yang cekap, cepat, selesa dan murah. Agak malang apabila masa yang begitu berharga terpaksa dibazirkan begitu sahaja dalam kesesakan lalulintas. Lebih menyedihkan kemalangan jalan raya semakin meningkat terutamanya melibatkan generasi muda dan warga yang begitu diperlukan dalam pembinaan ekonomi dan masa depan negara.
Saya percaya kerajaan juga telah berusaha untuk meningkatkan tahap kecekapan dan keberkesanan sistem pengangkutan di Malaysia. Usaha yang serius dapat kita lihat melalui langkah penambahbaikan dan pemodenan KTMB yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat.
Demi mengubah persepsi ramai terhadap kualiti perkhidmatan yang diberikan dan menjadikannya sebagai pilihan utama di masa depan, antara jaminan yang diperlukan adalah kemampuannya untuk menepati masa yang diperlukan, keselesaan perjalanan dan selamat tiba di destinasi yang dituju.
Perlu direnungkan bersama bagaimana kecekapan sistem pengangkutan dan teknologi menjadikan
banyak negara di dunia mampu mendahului dalam persaingan ekonomi.
Sebagai contoh, Korea Selatan dan China adalah dua buah negara yang jauh lebih miskin dan ketinggalan berbanding Malaysia ketika merdeka dulu.
Namun, Korea Selatan pada hari ini bangkit menjadi antara negara Asia berteknologi tinggi dengan memiliki jenama besar bertaraf dunia. China pula bangkit dengan gagah sebagai kuasa besar ekonomi dunia setelah mencorak semula ekonomi dan menerima pakai sistem ekonomi pasaran ala kapitalis, sekalipun sistem politiknya kekal komunis.
Kesannya, seperti Jepun, Korea Selatan dan China kini menjadi negara utama yang mempelopori teknologi kereta api. China kini boleh berbangga dengan keretapi magnet tercanggih - Maglev yang mampu mencapai kelajuan purata 350 km sejam sekaligus misalnya memangkinkan perjalanan sejauh 1,069 km dari Wuhan di tengah China ke Guangzhou di selatan dipendekkan kepada hanya 3 jam berbanding 10.5 jam sebelum ini!
Dalam tempoh singkat China berupaya memiliki teknologi kereta api terkini yang jauh lebih canggih daripada apa yang ada pada Malaysia. Malahan baru-baru ini China telah mendapat kontrak daripada Arab Saudi bernilai RM6.65 bilion membina sistem keretapi monorel Mekah bagi kegunaan berjuta umat Islam menyempurna ibadah haji dan umrah pergi-balik antara Mekah, Mina, Arafat dan Muzdalifah. China juga terlibat dalam projek membina sistem keretapi laju Al Haramain yang akan menghubungkan Makkah dengan Jeddah dan Madinah dengan kelajuan 360 km sejam dan berupaya membawa 72,000 penumpang setiap jam.
Semua ini mengingatkan saya kepada pemerhatian seorang penulis Amerika keturunan Yahudi mengenai keciciran umat Islam sebagai umat yang suatu ketika paling maju tamadunnya dan paling ke depan dalam banyak bidang kehidupan.
Dalam bukunya ”What went wrong?” Bernard Lewis memerhatikan, setelah bangsa Eropah maju ke depan dan mendahului pemerintahan Osmaniah Turki (pemegang terakhir tampuk kuasa pemerintahan Khalifah Islam) yang semakin lemah, umat Islam semakin merosot kuasa ekonomi dan politik. Antara yang paling ketara ialah ketinggalan umat Islam setelah Barat menguasai teknologi.
Contoh yang diberikan oleh Lewis adalah aktiviti perkapalan yang pada mulanya dikuasai Arab dan pelayar Muslim sebelum diambil alih Barat dengan kecanggihan teknologi perkapalannya. Umat Islam yang sebelum ini ke Makkah menyempurnakan haji dan umrah menggunakan kapal milik Muslim, akhirnya semuanya berhijrah menggunakan kapal milik Inggeris, Belanda atau Portugis kerana ia ”lebih cepat, murah dan selamat.”
Lewis selanjutnya menggambarkan bagaimana merosotnya keupayaan umat Islam menyebabkan ekonomi Islam yang dulunya perkasa, akhirnya terpaksa bergantung kepada Barat. Beliau menggambarkan kopi adalah minuman yang diperkenalkan orang Arab kepada dunia sehingga Barat turut ketagihkannya. Asalnya kopi yang diminum oleh orang Eropah, sama seperti kebanyakan barangan yang besar permintaan di Barat, termasuk rempah-ratus, kain sutera, dan lain-lain barangan mewah, semuanya dibekalkan oleh orang Arab dan dijual oleh pedagang Muslim.
Namun, setelah Barat maju, menjajah dunia, merampas kuasa ekonomi dan meletakkan teraju ekonomi di tangan organisasi syarikat-syarikat gergasi, akhirnya semua orang Arab, Turki dan Muslim lainnya terpaksa membeli kopi dan gula daripada pedagang Eropah.
Kesudahannya, kata Lewis, ”bermula di hujung abad ke-18 setiap cawan kopi bergula yang diminum oleh orang Turki atau Arab didatangkan dari Jawa milik Belanda atau dari Amerika milik Sepanyol, gula pula dari Hindia Barat milik British atau Perancis; hanya air panas saja bahan tempatan”.
Demikianlah bukti sejarah betapa penguasaan teknologi pengangkutan berjaya mematah keupayaan ekonomi umat Islam dan mahu atau tidak, memaksa mereka tunduk kepada realiti kuasa ekonomi Barat. Kecanggihan teknologi Barat, apabila digandingkan dengan keupayaan bisnes berorganisasi besar menerusi syarikat dengan konsep tanggungan berhad telah memberi Barat ”senjata” ekonomi yang paling perkasa.
Akhirnya, umat Islam yang dulunya hebat berdagang, handal berniaga, berani mengharung lautan dan tabah berusaha kini kehilangan kuasa langsung lemah tidak bermaya. Umat yang dijanjikan agamanya sebagai umat terbaik lagi mulia, memiliki ”tangan di atas” atau ”tangan memberi”, sebaliknya kini menjadi umat yang hilang upaya, menjadi umat ”tangan di bawah”, iaitu ”tangan menerima” dan tangan meminta-minta!
Kita kini berdepan dengan pelbagai persoalan. Apakah pembelian keretapi baru oleh Malaysia dari Korea Selatan dan Arab Saudi dari China melambangkan berulangnya gelombang tsunami lama yang memusnahkan daya dan keupayaan umat? Apakah kalau dulu Barat menewaskan umat, kali ini kita akan ditewaskan pula oleh pihak Timur, iaitu negara seperti China dan Korea Selatan yang kini berupaya menguasai teknologi dan memanfaatkan organisasi?
Di mana keperkasaan umat Islam yang dijanjikan sebagai umat terbaik dan khalifah di muka bumi? Kenapa, di samping banyak kelebihan, misalnya setelah banyak negara Islam bebas dan merdeka, jumlah umat ramai, dan beberapa negara Islam menguasai sumber minyak dunia, umat Islam masih tidak berupaya menguasai teknologi canggih dan menguasai organisasi binses dan korporat besar sehingga hilang kuasa ekonomi di negara mereka sendiri?
Kenapa dalam sektor makanan halal sekalipun, penguasaan umat tidak sampai 20 peratus, dan sebahagian besar keperluan halal dibekalkan oleh orang serta syarikat bukan Islam khasnya organisasi korporat multinasional (MNC) milik Barat? Kenapa produk kosher (iaitu makanan ala ’halal’ untuk Yahudi) lebih mudah didapati di pasaran dan Muslim di Amerika Syarikat, misalnya, menjadi pembeli dan pengguna terbesar, iaitu 60 peratus daripada keseluruhan pembeli produk kosher di Amerika Syarikat?
Saya berpendapat antara faktor utama yang menyebabkan bangsa Melayu dan umat Islam ketinggalan jauh ke belakang, sekalipun ada di kalangan mereka yang telah berniaga sejak berzaman seperti bangsa Arab, adalah kerana mereka terlalu terikat kepada bisnes hanya dengan berjual-beli dan berdagang sejak turun-temurun. Paling penting sekali, mereka tidak seperti pedagang Barat dan Timur yang segera membina organisasi bisnes besar dan menyusun bisnes secara korporat yang berkesinambungan dan berdayatahan.
Umat Islam sedar akan pentingnya peranan dan penguasaan teknologi, khasnya di institusi pengajian tinggi dan akademik. Namun, manfaatnya kerap tidak dipaksikan kepada organisasi bisnes atau korporat yang umumnya lebih cergas dan dinamis dalam mengaplikasikan teknologi untuk manfaat bisnes. Kelemahan penguasaan organisasi perlu mendapat perhatian lebih utama di kalangan umat Islam dan dijadikan agenda utama pembaharuan masyarakat Islam di mana-mana.
Dalam kata lain, akhirnya bukan sahaja teknologi seperti teknologi keretapi canggih yang perlu dikuasai. Teknologi keretapi canggih mudah dibeli dan diperoleh jika kita mempunyai kemampuan kewangan. Ia boleh didapati, misalnya apabila pembinaan keretapi dikontrakkan oleh kita kepada pembekal luar negara yang juga bersetuju melatih dan memindahkan teknologi berkaitan.
Paling penting ialah kewujudan organisasi keretapi tempatan yang berkemampuan memaksimumkan faedah pembelian teknologi dari luar tersebut. Teknologi keretapi, sama seperti yang lain, boleh diterap dan diintegrasi ke dalam budaya apabila ada organisasi yang berupaya dan bersedia menjadi institusi induk. Organisasi ini perlu disusun serta dibentuk sebegitu rupa untuk memanfaatkan pemindahan teknologi baru ini sebelum menghasilkan sesuatu yang benar-benar sejati milik kita sendiri.
Dengan kelajuan 140 km sejam, masa perjalanan antara KL dan Ipoh dijangka dapat dipendekkan kepada hanya 1 jam 55 minit.
Syabas diucapkan kepada KTMB yang berusaha meningkatkan mutu perkhidmatannya demi memenuhi keperluan generasi masa kini.
Sebenarnya, di negara maju kereta api merupakan sistem pengangkutan utama dan menjadi pilihan masyarakatnya. Ia menjadi alternatif kepada sistem pengangkutan lain kerana kepantasan, kecekapan, ketepatan masa dan tambang murah.
Di Jepun, kereta api ”peluru” Shinkansen (bullet train) sangat dibanggakan kerana kelajuan dan keberkesanannya. Kelajuannya mampu mencapai lebih 300 km sejam, menjadikan Shinkansen ikon kepada kemajuan Jepun dan kecanggihan teknologinya serta membolehkan rakyatnya bergerak pantas dalam persaingan.
Begitu juga Amerika Syarikat dan Eropah yang mempunyai teknologi jauh di hadapan. Mereka sentiasa berlumba-lumba meningkatkan keupayaan teknologi untuk memenuhi desakan perkembangan ekonomi dan sosial yang pesat. Perancis pula sangat berbangga dengan TGV mereka yang mampu mencapai kelajuan melebihi 350 km sejam. TGV merentasi Eropah dan menjadi nadi utama pengangkutan di Eropah. Sepanjang 2008 saja, TGV mengangkut lebih 98 juta penumpang.
Semua pencapaian ini menjadikan kereta api sebagai pilihan masyarakat negara maju dan menjadi akses yang murah, cepat, selamat dan menjimatkan masa. Ini adalah antara keperluan masyarakat di negara maju kerana mereka tahu bahawa mereka perlu bergerak pantas mengejar masa agar tidak ketinggalan.
Kita juga memerlukan teknologi seumpama ini bagi menggantikan sistem sedia ada. Salah satu faktor kepada kepesatan pertumbuhan ekonomi negara-negara maju hari ini adalah jaringan sistem pengangkutan yang cekap, cepat, selesa dan murah. Agak malang apabila masa yang begitu berharga terpaksa dibazirkan begitu sahaja dalam kesesakan lalulintas. Lebih menyedihkan kemalangan jalan raya semakin meningkat terutamanya melibatkan generasi muda dan warga yang begitu diperlukan dalam pembinaan ekonomi dan masa depan negara.
Saya percaya kerajaan juga telah berusaha untuk meningkatkan tahap kecekapan dan keberkesanan sistem pengangkutan di Malaysia. Usaha yang serius dapat kita lihat melalui langkah penambahbaikan dan pemodenan KTMB yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat.
Demi mengubah persepsi ramai terhadap kualiti perkhidmatan yang diberikan dan menjadikannya sebagai pilihan utama di masa depan, antara jaminan yang diperlukan adalah kemampuannya untuk menepati masa yang diperlukan, keselesaan perjalanan dan selamat tiba di destinasi yang dituju.
Perlu direnungkan bersama bagaimana kecekapan sistem pengangkutan dan teknologi menjadikan
banyak negara di dunia mampu mendahului dalam persaingan ekonomi.
Sebagai contoh, Korea Selatan dan China adalah dua buah negara yang jauh lebih miskin dan ketinggalan berbanding Malaysia ketika merdeka dulu.
Namun, Korea Selatan pada hari ini bangkit menjadi antara negara Asia berteknologi tinggi dengan memiliki jenama besar bertaraf dunia. China pula bangkit dengan gagah sebagai kuasa besar ekonomi dunia setelah mencorak semula ekonomi dan menerima pakai sistem ekonomi pasaran ala kapitalis, sekalipun sistem politiknya kekal komunis.
Kesannya, seperti Jepun, Korea Selatan dan China kini menjadi negara utama yang mempelopori teknologi kereta api. China kini boleh berbangga dengan keretapi magnet tercanggih - Maglev yang mampu mencapai kelajuan purata 350 km sejam sekaligus misalnya memangkinkan perjalanan sejauh 1,069 km dari Wuhan di tengah China ke Guangzhou di selatan dipendekkan kepada hanya 3 jam berbanding 10.5 jam sebelum ini!
Dalam tempoh singkat China berupaya memiliki teknologi kereta api terkini yang jauh lebih canggih daripada apa yang ada pada Malaysia. Malahan baru-baru ini China telah mendapat kontrak daripada Arab Saudi bernilai RM6.65 bilion membina sistem keretapi monorel Mekah bagi kegunaan berjuta umat Islam menyempurna ibadah haji dan umrah pergi-balik antara Mekah, Mina, Arafat dan Muzdalifah. China juga terlibat dalam projek membina sistem keretapi laju Al Haramain yang akan menghubungkan Makkah dengan Jeddah dan Madinah dengan kelajuan 360 km sejam dan berupaya membawa 72,000 penumpang setiap jam.
Semua ini mengingatkan saya kepada pemerhatian seorang penulis Amerika keturunan Yahudi mengenai keciciran umat Islam sebagai umat yang suatu ketika paling maju tamadunnya dan paling ke depan dalam banyak bidang kehidupan.
Dalam bukunya ”What went wrong?” Bernard Lewis memerhatikan, setelah bangsa Eropah maju ke depan dan mendahului pemerintahan Osmaniah Turki (pemegang terakhir tampuk kuasa pemerintahan Khalifah Islam) yang semakin lemah, umat Islam semakin merosot kuasa ekonomi dan politik. Antara yang paling ketara ialah ketinggalan umat Islam setelah Barat menguasai teknologi.
Contoh yang diberikan oleh Lewis adalah aktiviti perkapalan yang pada mulanya dikuasai Arab dan pelayar Muslim sebelum diambil alih Barat dengan kecanggihan teknologi perkapalannya. Umat Islam yang sebelum ini ke Makkah menyempurnakan haji dan umrah menggunakan kapal milik Muslim, akhirnya semuanya berhijrah menggunakan kapal milik Inggeris, Belanda atau Portugis kerana ia ”lebih cepat, murah dan selamat.”
Lewis selanjutnya menggambarkan bagaimana merosotnya keupayaan umat Islam menyebabkan ekonomi Islam yang dulunya perkasa, akhirnya terpaksa bergantung kepada Barat. Beliau menggambarkan kopi adalah minuman yang diperkenalkan orang Arab kepada dunia sehingga Barat turut ketagihkannya. Asalnya kopi yang diminum oleh orang Eropah, sama seperti kebanyakan barangan yang besar permintaan di Barat, termasuk rempah-ratus, kain sutera, dan lain-lain barangan mewah, semuanya dibekalkan oleh orang Arab dan dijual oleh pedagang Muslim.
Namun, setelah Barat maju, menjajah dunia, merampas kuasa ekonomi dan meletakkan teraju ekonomi di tangan organisasi syarikat-syarikat gergasi, akhirnya semua orang Arab, Turki dan Muslim lainnya terpaksa membeli kopi dan gula daripada pedagang Eropah.
Kesudahannya, kata Lewis, ”bermula di hujung abad ke-18 setiap cawan kopi bergula yang diminum oleh orang Turki atau Arab didatangkan dari Jawa milik Belanda atau dari Amerika milik Sepanyol, gula pula dari Hindia Barat milik British atau Perancis; hanya air panas saja bahan tempatan”.
Demikianlah bukti sejarah betapa penguasaan teknologi pengangkutan berjaya mematah keupayaan ekonomi umat Islam dan mahu atau tidak, memaksa mereka tunduk kepada realiti kuasa ekonomi Barat. Kecanggihan teknologi Barat, apabila digandingkan dengan keupayaan bisnes berorganisasi besar menerusi syarikat dengan konsep tanggungan berhad telah memberi Barat ”senjata” ekonomi yang paling perkasa.
Akhirnya, umat Islam yang dulunya hebat berdagang, handal berniaga, berani mengharung lautan dan tabah berusaha kini kehilangan kuasa langsung lemah tidak bermaya. Umat yang dijanjikan agamanya sebagai umat terbaik lagi mulia, memiliki ”tangan di atas” atau ”tangan memberi”, sebaliknya kini menjadi umat yang hilang upaya, menjadi umat ”tangan di bawah”, iaitu ”tangan menerima” dan tangan meminta-minta!
Kita kini berdepan dengan pelbagai persoalan. Apakah pembelian keretapi baru oleh Malaysia dari Korea Selatan dan Arab Saudi dari China melambangkan berulangnya gelombang tsunami lama yang memusnahkan daya dan keupayaan umat? Apakah kalau dulu Barat menewaskan umat, kali ini kita akan ditewaskan pula oleh pihak Timur, iaitu negara seperti China dan Korea Selatan yang kini berupaya menguasai teknologi dan memanfaatkan organisasi?
Di mana keperkasaan umat Islam yang dijanjikan sebagai umat terbaik dan khalifah di muka bumi? Kenapa, di samping banyak kelebihan, misalnya setelah banyak negara Islam bebas dan merdeka, jumlah umat ramai, dan beberapa negara Islam menguasai sumber minyak dunia, umat Islam masih tidak berupaya menguasai teknologi canggih dan menguasai organisasi binses dan korporat besar sehingga hilang kuasa ekonomi di negara mereka sendiri?
Kenapa dalam sektor makanan halal sekalipun, penguasaan umat tidak sampai 20 peratus, dan sebahagian besar keperluan halal dibekalkan oleh orang serta syarikat bukan Islam khasnya organisasi korporat multinasional (MNC) milik Barat? Kenapa produk kosher (iaitu makanan ala ’halal’ untuk Yahudi) lebih mudah didapati di pasaran dan Muslim di Amerika Syarikat, misalnya, menjadi pembeli dan pengguna terbesar, iaitu 60 peratus daripada keseluruhan pembeli produk kosher di Amerika Syarikat?
Saya berpendapat antara faktor utama yang menyebabkan bangsa Melayu dan umat Islam ketinggalan jauh ke belakang, sekalipun ada di kalangan mereka yang telah berniaga sejak berzaman seperti bangsa Arab, adalah kerana mereka terlalu terikat kepada bisnes hanya dengan berjual-beli dan berdagang sejak turun-temurun. Paling penting sekali, mereka tidak seperti pedagang Barat dan Timur yang segera membina organisasi bisnes besar dan menyusun bisnes secara korporat yang berkesinambungan dan berdayatahan.
Umat Islam sedar akan pentingnya peranan dan penguasaan teknologi, khasnya di institusi pengajian tinggi dan akademik. Namun, manfaatnya kerap tidak dipaksikan kepada organisasi bisnes atau korporat yang umumnya lebih cergas dan dinamis dalam mengaplikasikan teknologi untuk manfaat bisnes. Kelemahan penguasaan organisasi perlu mendapat perhatian lebih utama di kalangan umat Islam dan dijadikan agenda utama pembaharuan masyarakat Islam di mana-mana.
Dalam kata lain, akhirnya bukan sahaja teknologi seperti teknologi keretapi canggih yang perlu dikuasai. Teknologi keretapi canggih mudah dibeli dan diperoleh jika kita mempunyai kemampuan kewangan. Ia boleh didapati, misalnya apabila pembinaan keretapi dikontrakkan oleh kita kepada pembekal luar negara yang juga bersetuju melatih dan memindahkan teknologi berkaitan.
Paling penting ialah kewujudan organisasi keretapi tempatan yang berkemampuan memaksimumkan faedah pembelian teknologi dari luar tersebut. Teknologi keretapi, sama seperti yang lain, boleh diterap dan diintegrasi ke dalam budaya apabila ada organisasi yang berupaya dan bersedia menjadi institusi induk. Organisasi ini perlu disusun serta dibentuk sebegitu rupa untuk memanfaatkan pemindahan teknologi baru ini sebelum menghasilkan sesuatu yang benar-benar sejati milik kita sendiri.
Subscribe to:
Posts (Atom)